Minggu, 17 Juli 2011

Hukum Memakai Susuk

Tanya : Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Akhi, ana mau nanya.. mudah-mudahan dijawab langsung oleh ustadz karena ini sangat penting bagi ana atau mungkin ada orang lain yang senasib
Tahun 1997 ana merantau ke jakarta, disana ana terjebak syirik yakni dengan memasang susuk pada tubuh. setelah itu pada saat tidur ana sering merasa diganggun oleh makhluk halus (mimpi buruk dan menyeramkan), malas beribadah dsb..
yang ana tanyakan:
1. Mungkinkah dosa ana diampuni, bagaimana cara ana bertobat?
2. Bila ana meninggal dunia sementara susuk yang ana pasang masih ada (berpengaruh), apakah kematian ana kafir?
3. Bolehkan ana minta tolong orang untuk ruqyah, atau mungkinkah susuk itu bisa hilang sendiri?
4. Sudah beberapa bulan ini ana mengikuti kajian salaf/salafy, apakah ana terkategori sebagai orang munafik bila saat ini kadang kadang masih menggunakan pakaian isbal terutama bila di masyarakat umum. Soalnya ana takut di kira orang alim bila berpakaian diatas mata kaki sementara ana masih sangat awam. Ana sangat membutuhkan jawabannya. ana ingin meninggal dunia sebagai muslim. Jazakummullah Khairon wa barrokallahu fiik
Jawab : Wa’alaykumussalam warohmatullah wabarokatuh
1. InsyaAllah dosa antum akan diampuni, jika antum jujur dalam bertaubat, meninggalkan dosa, dan tidak mengulanginya. JIka antum mengulangi dosa syirik itu, dan antum meninggal diatasnya maka dosa antum tidak akan diampuni dan kelak akan dimasukkan dalam neraka. Allah Ta’aala berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa: 48)
2. Adapun masalah susuk, maka antum berusaha menghilangkannya dengan cara meruqyah diri sendiri dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, dan dzikir-dzikir pagi dan sore yang ada dalam hadits yang shahih. Jika susuk itu tidak bisa hilang, sedangkan antum sudah bertaubat dan menyesali perbuatan tersebut, lalu antum meninggal, maka antum insyaAllah akan meninggal diatas tauhid.
3. Tidak usah meminta ruqyah kepada orang lain, dan cukup meruqyah diri sendiri dan dengan izin Allah dan usaha dari antum niscaya susuk itu akan hilang.
4. Pakailah pakaian yang sunnah yaitu pakaian yang tidak melewati mata kaki, sekalipun orang-orang sekitar kita menganggap kita aneh, karena itulah sunnatullah bagi para penegak sunnah; mereka akan dicemooh, dianggap asing, dijauhi. Namun bersabarlah diatas sunnah, niscaya Anda termasuk dalam sabda Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam :
“Islam ini awal kali munculnya dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sholeh (baik) ketika manusia rusak. Maksudnya, mereka (orang-orang asing karena melaksanakan sunnah) tetap dalam keadaan baik aqidahnya, ibadahnya, dan akhlaknya bagus di tengah manusia yang rusak akidahnya, ibadahnya, dan akhlaknya.
Jadi seseorang yang menapaki manhaj salaf di akhir zaman ini, harus bersabar ditengah manusia-manusia rusak yang menganggap para penegak sunnah sebagai orang yang asing, dan musuhnya. Inilah yang dikabarkan oleh Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam :
“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari di mana orang yang sabar ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para Shahabat bertanya: “Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau dari mereka?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian”.(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim. Dan dishahihkan oleh Imam Hakim dan disepakati oleh Dzahabi; lihat Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Abdus Salam bin Barjas, hal. 49)
Dibawah naungan cahaya hadits ini, kita mendapatkan petunjuk dan bimbingan bahwa orang-orang asing yang melaksanakan sunnah akan menghadapi kondisi yang susah antara mengikuti sunnah ataukah meninggalkan sunnah. Disinilah seorang membutuhkan kesabaran agar dia tetap berada dalam sunnah. InsyaAllahu Ta’aala, kesabaran inilah yang akan mengumpulkan kita bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam di akhirat kelak. Allahumma Amin.
Dijawab oleh Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah

Kamis, 14 Juli 2011

Salman Al-Farisi

Saat hidayah menerangi hati, takkan gentar jiwa menantang aral. Gunung tak masalah untuk didaki, laut pun tak peduli untuk diarungi, lezatnya pangkat pun siap ditanggalkan. Semua ini guna mencecap nikmatnya hidayah yang tak terbeli.
Dalam lipatan buku sejarah dan hadits, tertoreh nama Salman Al-Farisi. Seorang sahabat Nabi dari negeri seberang. Seorang alim yang mengetahui dua kitab suci. Sejarah keislamannya mencerminkan mahal dan manisnya hidayah. Kisah Salman masuk Islam termaktub di dalam Musnad Ahmad secara lengkap dengan sanad yang shahih. Salman menceritakannya secara langsung kepada Ibnu ‘Abbas g.
Sebelum Rasulullah ` diutus membawa cahaya hidayah, pemuda Salman adalah pemuda Persia, anak kesayangan dari seorang tokoh di sana, sampai-sampai ayahnya tidak membiarkannya keluar rumah lantaran sayang terhadap putranya.
Salman awalnya adalah seorang Majusi penyembah api yang taat. Dia senantiasa menjaga api agar tidak padam. Suatu hari, Salman diperintah untuk melihat kebun ayahnya. Dia pun bertolak dari rumah menuju kebunnya. Di tengah perjalanan, Salman mendengar suara orang-orang Nasrani sedang beribadah di dalam gereja. Salman, yang tidak mengetahui dunia luar, pun penasaran terhadap suara tersebut. Dia masuk ke dalam gereja melihat ibadah yang mereka lakukan.
“Demi Allah, ini lebih baik daripada agama yang kami anut.” tukasnya dalam hati.
“Dari mana asal agama ini?” tanya Salman kepada mereka.
Mereka menjawab, “Syam.”
Dia terus di gereja hingga matahari tenggelam dan tidak mendatangi kebun ayahnya. Saat dia pulang, ayahnya mengatakan padanya, “Dari mana kamu, Nak? Bukankah aku telah menyuruhmu untuk melihat kebun?” Salman pun menceritakan perihalnya. Demi melihat anaknya condong kepada agama Nasrani, ayahnya pun merantai kakinya dan tidak memperbolehkannya keluar rumah.
Salman tak patah arang. Dia mengirim utusan untuk menemui orang-orang Nasrani dan berpesan, “Jika ada orang yang datang dari Syam, tolong beritahu saya.”
Datanglah saudagar Nasrani dari Syam. Tatkala mereka ingin pulang ke negari Syam, Salman lepaskan rantai besi di kakinya, lari dari rumah, dan ikut bersama rombongan saudagar tersebut. Sesampainya di Syam, Salman bertanya, “Siapa yang paling utama ilmunya dalam agama ini?”
“Uskup di gereja.” jawab mereka.
Salman pun mendatanginya dan tinggal bersamanya. Ternyata, pendeta ini adalah pendeta yang berakhlak jelek. Dia memotivasi orang-orang untuk mengumpulkan uang, namun ternyata dia gunakan untuk kepentingan pribadi, dan tidak memberikannya kepada orang miskin.
Saat ajal menjemput pendeta ini, dia digantikan oleh seorang yang baik. Seorang figur yang zuhud terhadap dunia, berakhlak mulia, cinta terhadap akhirat, dan rajin beribadah siang dan malam. Salman sangat mencintai gurunya ini.
Tak lama, pendeta ini pun menemui ajalnya. Sebelum pendeta meninggal, Salman bertanya kepadanya siapa orang yang masih berada di atas agama ini. Pendeta itu pun mengatakan, “Anakku, Demi Allah, pada hari ini aku tidak mengetahui ada seseorang yang menganut ajaran sepertiku. Orang-orang telah binasa dan merubah ajaran Nasrani. Mereka telah meninggalkan banyak dari ajarannya. Kecuali, seseorang di daerah Maushil, Fulan, dia menganut ajaran sepertiku. Ikutilah dia.”
Demikianlah, Salman ke Maushil setelah penguburan pendeta dan berguru kepada seorang Nasrani di sana. Lagi, maut pun menjemput gurunya. Sebelum ajal menjemput, dia bertanya kepada gurunya siapa yang masih berada di atas ajaran ini. “Fulan di daerah Nashibin.” katanya. Hal ini berulang kali terjadi pada Salman, berpindah dari satu guru ke guru yang lain dari satu tempat ke tempat yang lain demi mencari hidayah ajaran agama yang benar. Sampai-sampai, Salman pernah berujar, “Saya berganti guru sebanyak belasan kali. Dari satu guru ke guru yang lain.”
Hingga pada akhirnya, dia berguru kepada seorang pendeta di kota yang bernama ‘Ammuriyah. Tak lama, pendeta itu pun meninggal dunia. Sebelum pendeta itu meninggal dunia, Salman bertanya dengan pertanyaan yang sama, siapa orang yang masih dengan setia memeluk agama Nasrani yang murni. Pendeta pun menjawab, “Anakku, Demi Allah, sekarang ini saya tidak tahu ada seseorang yang menganut seperti agama kita ini. Tetapi, sudah dekat zaman Nabi yang diutus membawa agama Nabi Ibrahim. Tempat hijrahnya banyak pohon kurma dan diapit dua tempat yang banyak batu hitam (Madinah). Dia memiliki tanda yang tidak tersembunyi: mau memakan hadiah, tidak mau memakan sedekah, dan antara dua pundaknya ada tanda kenabian. Jika kamu bisa tinggal bersamanya di negeri itu, lakukanlah.”
Selang beberapa lama, datanglah serombongan saudagar dari negeri Arab. Salman pun meminta tumpangan kepada mereka dengan bayaran beberapa sapi dan kambing hasil pekerjaannya. Di tengah perjalanan, tepatnya di Wadi Al-Qura, saudagar tadi menzhalimi Salman. Dia menjual Salman sebagai budak kepada seorang Yahudi.
Tak lama bersama Yahudi itu, Salman pun dijual lagi kepada seorang Bani Quraizhah dari Madinah. Salman dibawa ke Madinah. Saat memasukinya, Salman paham inilah kota yang dimaksud oleh gurunya.
Lalu, Rasulullah ` pun diutus. Saat itu, beliau tinggal di Makkah dan Salman tidak mengetahui perihal beliau dikarenakan kesibukannya sebagai budak.
Pada saat Nabi ` hijrah ke Madinah, seorang sepupu tuannya datang tergopoh-gopoh mengeluhkan sesuatu, “Wahai Fulan, semoga Allah membinasakan Bani Qailah (yakni Anshar), Demi Allah! Hari ini mereka berkumpul di Quba menemui seseorang dari Makkah, dia sangka bahwa dirinya Nabi.” tukasnya kepada sepupunya.
Salman yang waktu itu berada di atas pohon gemetar demi mendengar berita ini hingga hampir menjatuhi tuannya. Dia turun dan bertanya kepada sepupu tuannya, “Apa katamu? Apa katamu?”
Tuannya pun marah dan memukulnya. “Apa urusanmu?! Kembali bekerja!” katanya.
Salman menjawab, “Tidak, saya hanya ingin memastikan saja.”
Malamnya, Salman mengambil perbekalan yang dia kumpulkan. Dia pergi ke Quba menemui Rasulullah `. Salman menemui beliau dan mengatakan, “Saya diberitahu bahwa Anda adalah seorang yang shalih dan sahabat Anda adalah orang yang membutuhkan. Ini milik saya untuk sedekah.” Salman mendekatkan bekalnya kepada Nabi `. Beliau pun berkata, “Makanlah kalian.” Sedang beliau tidak menyentuhnya sama sekali. “Ini satu tanda.” kata Salman dalam hati.
Salman pun pulang. Saat Rasulullah ` hendak berangkat ke Madinah, Salman mendatangi beliau, membawa bekal yang lebih banyak daripada kemarin, dan mengatakan, “Saya melihat Anda tidak memakan sedekah, ini hadiah untuk Anda sebagai bentuk pemuliaan saya terhadap Anda.” Beliau pun makan darinya dan menyuruh sahabatnya untuk makan bersama beliau. “Dua tanda.” kata Salman dalam hati.
Di lain hari, Salman menemui Nabi ` di pekuburan Baqi’. Salman pun melihat punggung Nabi ` untuk memeriksa tanda ketiga yang berupa tanda kenabian di antara pundak beliau. Rasulullah ` paham bahwa Salman ingin melihat tanda kenabian. Maka Rasulullah ` pun menurunkan pakaian atasnya yang berupa selendang waktu itu. Saat Salman melihat tanda kenabian pada punggung beliau, dia pun memeluk Rasulullah `, menciumnya, dan menangis. Setelah sekian lama merindu hidayah, akhirnya Salman pun bertemu dengan pembawa panji hidayah. Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam. Makhluk yang pantas untuk dibela hingga titik darah penghabisan. Tak heran, Salman pun kemudian menjadi salah satu benteng Rasulullah ` dalam sekian peperangan.
Demikianlah kisah indah Abu Abdillah Salman Al-Farisi. Seorang sahabat yang mencari jati diri. Kesulitan demi kesulitan dialaminya demi menuntut kebenaran. Kasih sayang dari ayahnya tak cukup untuk menghentikannya dari memburu kebenaran. Begitulah jiwa yang telah Allah kehendaki menerima cahaya hidayah. Semoga Allah meridhai dan merahmatinya. (Abdurrahman)
http://tashfiyah.net
sumber : 

Minggu, 10 Juli 2011

Pakaian tuk Bidadari Kecilku

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad ibn Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullâh
Soal:
Sebagian wanita, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka, memakaikan pakaian pendek yang memperlihatkan betis kepada anak-anak putri mereka. Ketika kami menasehati mereka, mereka mengatakan, “Kami pun mengenakan pakaian yang serupa sewaktu kami masih anak-anak, namun tidak membahayakan kami ketika kami dewasa.” Apa pendapat Anda tentang perkara ini?
Jawab:
Saya berpendapat, tidak sepantasnya seseorang memakaikan pakaian seperti itu kepada putrinya meskipun ia masih kecil. Sebab, jika ia tumbuh terbiasa dengan pakaian tersebut, maka ia akan melekat dengannya (tetap memakainya) dan akan menganggapnya sebagai perkara yang sepele. Namun, jika kalian mendidiknya dengan baik untuk berhias dengan rasa malu sejak dini, maka ia akan terus terbiasa dengan keadaan ini hingga ia dewasa.
Saya nasehatkan kepada saudari-saudariku kaum muslimah agar meninggalkan pakaian orang-orang asing yang merupakan musuh-musuh agama, membiasakan anak-anak mereka untuk memakai pakaian yang menutupi tubuh (‘aurat -pent.) mereka, dan mengajari mereka untuk berhias dengan rasa malu, karena malu adalah bagian dari îmân.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, Fatâwâ al-Mar’ah
(Diterjemahkan dari http://fatwa-online.com/fataawa/womensissues/clothing/0000206_27.htm untuk http://akhwat.web.id)